Makassar — Konsolidasi besar di tubuh Laskar Merah Putih (LMP) akhirnya menemui titik terang. Pertemuan dua tokoh sentral, H. Ir. Arsyad Cannu dan H. Adek Erfil Manurung, bukan sekadar simbol rekonsiliasi, melainkan sinyal kuat berakhirnya dualisme yang sempat menggerus soliditas organisasi.
Langkah ini dinilai sebagai manuver strategis dan penuh kedewasaan, mengingat konflik internal kerap menjadi batu sandungan bagi organisasi kemasyarakatan.
Kini, LMP justru menunjukkan arah sebaliknya: menyatukan perbedaan menjadi energi kolektif.
Hasil konsolidasi tersebut langsung berdampak pada penataan struktur di daerah. M. Taufik Hidayat kembali dipercaya menakhodai sebagai KAMADA LMP Sulawesi Selatan, sementara Irwan Adnan didapuk sebagai Dewan Pembina MADA LMP Sulsel.
Tak berhenti pada penetapan struktur, Taufik langsung mengirim pesan tegas: konsolidasi harus diikuti kerja nyata.
“Kami tidak ingin ini berhenti di seremoni. Dalam waktu dekat, kami akan melakukan pembenahan menyeluruh hingga ke tingkat kabupaten dan kota se-Sulawesi Selatan. Struktur harus rapi, solid, dan benar-benar bekerja untuk masyarakat,” tegas M. Taufik Hidayat.
Pernyataan ini menegaskan bahwa arah baru LMP bukan hanya soal rekonsiliasi elit, tetapi juga restrukturisasi organisasi dari bawah ke atas—sebuah langkah yang selama ini kerap diabaikan banyak organisasi.
Dukungan terhadap konsolidasi ini juga datang dari daerah. Sudirman Pangaribuan menilai momentum ini sebagai titik balik penting bagi kebangkitan LMP.
“Konsolidasi ini adalah langkah berani. Kita buktikan bahwa LMP tidak rapuh oleh perbedaan, justru kuat karena mampu menyatukan perbedaan itu,” ujarnya.
Ia menegaskan, jajaran di Makassar siap mengawal penuh hasil konsolidasi tersebut.
“Tidak ada lagi ruang konflik. Yang ada adalah kerja kolektif dan pengabdian. Ini saatnya LMP hadir sebagai solusi, bukan bagian dari masalah,” tambahnya.
Dengan arah baru ini, LMP Sulawesi Selatan dihadapkan pada ujian sesungguhnya: membuktikan bahwa konsolidasi bukan sekadar narasi elite, tetapi benar-benar menjelma menjadi gerakan nyata di tengah masyarakat.
Publik kini menanti—apakah konsolidasi ini akan melahirkan organisasi yang lebih kuat dan berintegritas, atau kembali terjebak dalam pola lama yang sarat konflik.







