Sintang, Kalimantan Barat — Musim kemarau panjang yang tengah melanda menjadi perhatian serius bagi masyarakat. Selain berpotensi memicu krisis air bersih, kondisi cuaca yang panas dan kering juga meningkatkan risiko terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Menyikapi kondisi tersebut, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan serta bersama-sama menjaga lingkungan untuk mencegah terjadinya bencana, khususnya kebakaran hutan dan lahan.
Kepedulian terhadap ancaman ekologis tersebut turut disuarakan Alex, salah seorang warga yang mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi lingkungan selama musim kemarau.
“Kemarau panjang ini dampaknya nyata. Selain kekurangan air, cuaca panas juga bisa mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan. Maka saya mengimbau masyarakat luas agar kita saling berjaga-jaga,” ujar Alex.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar menghindari berbagai aktivitas yang berpotensi menjadi pemicu munculnya titik api. Salah satunya adalah praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar, yang dinilai sangat berisiko dilakukan ketika kondisi lahan dan vegetasi sedang kering.
“Tolong jangan membakar ladang pada saat kemarau panjang seperti ini. Selain itu, hal yang sering dianggap sepele adalah membuang puntung rokok sembarangan. Ranting dan daun kering sangat mudah tersulut,” tambahnya.
Menurutnya, pencegahan Karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun aparat, tetapi membutuhkan kepedulian dan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Sebab, dampak kebakaran dapat meluas, mulai dari terganggunya aktivitas masyarakat hingga menurunnya kualitas udara yang berpotensi mengganggu kesehatan.
Alex pun mengajak masyarakat untuk bersama-sama mendukung langkah pencegahan yang dilakukan pemerintah, TNI, dan Polri.
“Mari kita bergerak bersama dan mengindahkan imbauan pemerintah, aparat kepolisian, serta TNI. Kepatuhan dan kerja sama kita adalah kunci untuk menjaga keselamatan lingkungan dan mencegah Karhutla,” pungkasnya.
Penulis: Alex
Editor: D_C







