Petinggi Danantara Dinilai “Makan Gaji Buta”, Logis 08: Kinerjanya Belum Terlihat untuk Dongkrak Ekonomi Nasional

Bidiknews.info,JAKARTA —Ketua Umum DPP Logis 08, Anshar Ilo, melontarkan kritik terhadap kinerja Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Menurutnya, sejak dibentuk pemerintah, lembaga tersebut dinilai belum menunjukkan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Diketahui, BPI Danantara dipimpin oleh Rosan Roeslani sebagai Chief Executive Officer (CEO), Dony Oskaria sebagai Chief Operating Officer (COO), dan Pandu Patria Sjahrir sebagai Chief Investment Officer (CIO).

Bacaan Lainnya

Anshar menilai masyarakat hingga kini belum melihat dampak konkret dari keberadaan Danantara terhadap sektor riil maupun pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kalau sampai hari ini belum ada kontribusi konkret terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, maka publik wajar mempertanyakan apa yang sebenarnya dikerjakan oleh para petinggi Danantara,” ujar Anshar Ilo kepada wartawan, Minggu (10/5/2026).

Menurutnya, Danantara semestinya mampu menjadi motor penggerak investasi strategis yang dapat mendorong penciptaan lapangan kerja, memperkuat industri nasional, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Namun hingga saat ini, kata dia, belum terlihat adanya proyek investasi besar maupun kebijakan strategis yang berdampak langsung terhadap masyarakat.

“Danantara dibentuk dengan harapan besar untuk mengelola aset negara dan menarik investasi produktif. Tetapi sejauh ini gaungnya lebih besar daripada hasilnya. Belum terlihat langkah strategis yang mampu memberikan kontribusi signifikan bagi ekonomi nasional,” katanya.

Anshar juga menegaskan bahwa lembaga sebesar Danantara harus memiliki target yang terukur dan transparan, bukan sekadar menjadi institusi baru dengan struktur besar dan biaya operasional tinggi.

Ia meminta Prabowo Subianto untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja jajaran Danantara, termasuk efektivitas penggunaan anggaran serta capaian investasi yang telah dihasilkan.

“Presiden perlu melakukan evaluasi total. Jangan sampai harapan besar masyarakat terhadap Danantara berubah menjadi kekecewaan karena tidak ada hasil nyata,” ujarnya.

Lebih lanjut, Anshar menyebut Indonesia saat ini membutuhkan lembaga investasi yang agresif, profesional, dan fokus pada sektor-sektor produktif seperti industri manufaktur, pangan, energi, hilirisasi, serta pembangunan infrastruktur strategis.

“Kalau Danantara hanya sibuk mengelola aset tanpa memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, maka tujuan pembentukannya patut dipertanyakan,” pungkasnya.

Editor : DM

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *