Kurangnya Kesadaran Masyarakat, Sungai Kayan Jadi Tempat Pembuangan Sampah

Kurangnya Kesadaran Masyarakat, Sungai Kayan Jadi Tempat Pembuangan Sampah

SINTANG, KALIMANTAN BARAT — Sungai Kayan di wilayah Nanga Mau, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, masih menghadapi persoalan serius terkait sampah. Kebiasaan sebagian masyarakat membuang sampah ke sungai menjadi ancaman bagi kebersihan lingkungan, kelestarian ekosistem perairan, serta kenyamanan warga yang bergantung pada sungai dalam aktivitas sehari-hari.

Meski imbauan agar tidak membuang sampah ke sungai telah berulang kali disampaikan, persoalan ini belum sepenuhnya teratasi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesadaran menjaga lingkungan perlu terus ditingkatkan. Namun, persoalan sampah di Nanga Mau juga tidak dapat dilepaskan dari keterbatasan sarana dan prasarana pengelolaan sampah yang hingga kini masih menjadi kendala.

Bacaan Lainnya

Camat Kayan Hilir, Seberius Matius Akon, S.Pd.SD., M.E., menjelaskan bahwa sebelumnya terdapat tiga tenaga pengangkut sampah yang bertugas menggunakan kendaraan roda tiga atau Tosa. Layanan tersebut berjalan hingga sekitar tahun 2025, sebelum kendaraan pengangkut mengalami kerusakan.

“Selain kendaraan Tosa rusak, kami juga belum memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA),” ungkap Akon saat ditemui di kediamannya di Nanga Mau, Jumat (23/10/2026).

Menurutnya, pemerintah kecamatan sebelumnya mengarahkan masyarakat untuk membuang sampah di lahan milik warga bernama Acap di Nanga Mau. Lahan tersebut digunakan untuk menimbun sampah. Namun, setelah kapasitasnya penuh, pemilik lahan tidak lagi mengizinkan lokasi itu digunakan sehingga pemerintah kecamatan harus mencari alternatif tempat pembuangan yang baru.

Akon mengatakan, hingga kini pihaknya masih menghadapi dua persoalan utama, yakni belum tersedianya TPA yang memadai dan tidak adanya kendaraan operasional untuk mengangkut sampah.

Beberapa minggu sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Siti, disebut telah berkunjung ke Nanga Mau. Dalam pertemuan tersebut, muncul alternatif lokasi TPA berupa lahan hibah dari Kepala Desa Nanga Mau di kawasan Belonggi.

“Lahan yang dihibahkan kurang lebih berukuran 30 x 30 meter persegi. Lokasinya sekitar empat kilometer dari pusat Kecamatan Nanga Mau,” jelasnya.

Meski menjadi salah satu alternatif, lokasi tersebut masih menghadapi kendala akses. Menurut Akon, medan jalan yang memiliki banyak tanjakan tinggi membuat pengangkutan sampah menggunakan kendaraan Tosa dinilai tidak memungkinkan untuk menjangkau lokasi tersebut secara optimal.

“Kami dari pemerintah kecamatan memang kewalahan. TPA belum tersedia secara memadai, sementara kendaraan untuk mengangkut sampah juga tidak ada,” tuturnya.

Pemerintah Daerah Diharapkan Turun Tangan

Menghadapi persoalan tersebut, Camat Kayan Hilir berharap Pemerintah Kabupaten Sintang memberikan dukungan konkret melalui penyediaan armada pengangkut sampah yang sesuai dengan kondisi medan di wilayah Nanga Mau.

Jika pengadaan kendaraan jenis pikap belum dapat direalisasikan, ia berharap pemerintah mempertimbangkan kerja sama dengan pihak ketiga yang mampu menangani pengangkutan dan pengelolaan sampah secara berkelanjutan.

Persoalan ini membutuhkan perhatian bersama. Tanpa sarana pengangkutan dan lokasi pembuangan yang memadai, upaya mengubah kebiasaan masyarakat akan menghadapi hambatan. Sebaliknya, tersedianya fasilitas juga harus diikuti kedisiplinan warga dalam membuang sampah pada tempat yang semestinya.

Pembuangan sampah ke sungai berpotensi mencemari air, mengganggu kehidupan biota perairan, serta menyumbat aliran jika sampah menumpuk. Dalam jangka panjang, sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat memperburuk kondisi lingkungan dan meningkatkan risiko gangguan aliran air, terutama ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

Kesadaran Warga dan Fasilitas Harus Berjalan Bersama

Akon mengimbau masyarakat agar membangun kesadaran dari diri sendiri untuk tidak menjadikan Sungai Kayan sebagai tempat pembuangan sampah. Ia juga menyampaikan bahwa warga dapat mengelola sampah rumah tangga secara mandiri sesuai jenis dan karakteristiknya, selama dilakukan dengan cara yang aman dan tidak menimbulkan pencemaran baru.

“Hal ini perlu dimulai dari kesadaran diri sendiri,” ujarnya.

Persoalan sampah di Nanga Mau menjadi pengingat bahwa menjaga kebersihan sungai bukan hanya tanggung jawab masyarakat, tetapi juga membutuhkan dukungan nyata pemerintah melalui penyediaan fasilitas, armada pengangkut, dan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Masyarakat diharapkan tidak lagi membuang sampah ke Sungai Kayan. Pada saat yang sama, pemerintah daerah perlu memastikan tersedianya solusi yang realistis agar warga memiliki pilihan pembuangan sampah yang layak, mudah dijangkau, dan tidak merusak lingkungan.

Penulis: Alex
Editor: D_M

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *